Postingan Terkini Sila' mo sia baca...!!!

Cabang-Cabang Filsafat




1.     Metafisika
Padaawalnya, kosakatametafisikadigunakan di Yunaniuntukmenyebutkarya-karyatertentudarifilsufklasikAristoteles. Kata metafisikaberasaldaribahasaYunani, metaphysika yang berartihal-hal yang beradasesudahfisika. Aristotelessendirimengartikan kata metafisikasebagaijenisilmupengetahuantentang yang adasebagai yang ada, atau yang adasejauhada, yang diperlawankandengan yang adasebagai yang digerakkanataudijumlahkan, dan lain-lain. Dalamperkembangannyahinggadewasaini, secara popular, metafisikadipakaiuntukmenyebutkanfilsafatpadaumumnyaatausering kali jugadinamakancabangfilsafat yang khususmenyelidikipertanyaan-pertanyaan yang mendalam.
Metafisikadapatdidefinisikansebagaicabangfilsafatataupengetahuanmanusia yang berkaitaneratdenganpertanyaanmengenaiprinsip/hakikat “ada” yang terdalam. Karenametafisikatertindihtepatdenganilmu-ilmualamsepertifisikadanmatematika. Secarasingkat, matafisikaadalahtentangadasejauhada.
2.     Epistemologi
Epistemologiberasaldari kata Yunaniepisteme yang berarti“pengetahuan”, “pengetahuan yang benar”, “pengetahuanilmiah”, dan logos berartiteori. Epistemologidapatdidefinisikansebagaicabangfilsafat yang menyelidikisecarakhusustentangasalmula, susunan/komposisi, metode-metode, dansahnyasuatupengatahuan. Jadi, epistemologiadalahfilsafattentangpengetahuan.
3.      Logika
Logikamerupakansalahsatucabangfilsafat yang secarakhususmenyelidikicara-caraatauteknik-teknikuntukmemperolehkonklusi/kesimpulandaripremis-premissebelumnya. Karenalogikaberhubunganeratdengancaramenarikkesimpulan yang sahih, logikadisebutjugailmupengetahuanataufilsafattentangpenarikankesimpulan yang benar, valid, danlogis.
Dalamfilsafat, menarikkesimpulansecaralogisdan valid dapatdilakukandenganduacara. Logikapertamadisebutlogikadeduktif, sedangkanlogika yang lainnyadisebutlogikainduktif. Logikadeduktifbergerakdarihal-halumummenujukehal-halkhusus. Sementaraitu, logikainduktifjustrusebaliknya. Logikainduktifbergerakdarihal-halkhususmenujuhal-halumumatau universal.
4.     Etika
Jikalogikaberurusandengansoalbenar-salah, etikakefilsafatanjustruberurusandengantema-tema, sepertibaik-buruk, kebajikan-kejahatan, dan lain-lain. Etikalebihmenyorotidimensisikapdantingkahlakumanusia yang baikdalamkerangkatatakesusilaan (etis). Jadi, etikafilsafatanadalahfilsafatataupandanganmendasartentanghal-halkebaikandalamkehidupanmanusia.
5.     Estetika
Estetikakefilsafatanmerupakancabangfilsafat yang berhubungandengankajiantentangsalahsatuhal yang mendasariperadabanmanusia, yaituseniataukeindahan. Estetikakefilsafatanadalahcabangfilsafat yang melakukankajiandanpenyelidikantentangdefinisi, susunan, nilai, danperanankeindahan di dalamseni. Jadi, estetikakefilsafatanadalahfilsafattentangkeindahan.

Riwayat Hidup Tan Malaka



Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.
Perjuangan
Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.
Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.
Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.
Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.
Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.
Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.
Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.
Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."
Madilog
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.
Pahlawan
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.
Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.
Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.
Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.
Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.
Tan Malaka dalam fiksi
Dengan julukan Patjar Merah Indonesia Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.
Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Prancis.
Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).
Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.
Beberapa judul kisah Patjar Merah: Matu Mona. Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Medan (1938) Matu Mona. Rol Patjar Merah Indonesia cs. Medan (1938) Emnast. Tan Malaka di Medan. Medan (1940) Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940) Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)

Generasi Komputer Cerdas

Komputer yang kita gunakan sekarang ini tidak serta merta muncul begitu saja melainkan melalui proses yang panjang dalam evolusinya. Hal ihwal munculnya komputer mungkin dapat dilihat dalam kilas balik sejarah sejak digunakannya  Abacus – ditemukan di Babilonia (Irak) sekitar 5000 tahun yang lalu – sebagai alat perhitungan manual yang pertama, baik di lingkup sekolah maupun kalangan pedagang, saat itu. Pada periode selanjutnya telah banyak ditemukan alat-alat hitung mekanikal sejenis yaitu Pascaline yang ditemukan oleh Blaine Pascal pada tahun 1642, Arithometer oleh Charles Xavier Thomas de Colmar pada tahun 1820,Babbage’s Folly oleh Charles Babbage pada tahun 1822, dan Hollerith oleh Herman Hollerith pada tahun 1889. Kesemuanya masih berbentuk mesin sepenuhnya tanpa tenaga listrik. Ukuran dan kerumitan strukturnya berdasarkan atas tingkat pengoperasian perhitungan yang dilakukan. Barulah pada tahun 1940, era barukomputer elektrik dimulai sejak ditemukannya komputer elektrik yang menerapkan sistem aljabar Boolean.

Perkembangan teknologi komputer yang dijabarkan di bawah ini di bagi atas empat generasi berdasarkan atas komponen-komponen yang digunakannya, mulai dari yang berukuran “big” hingga mikro yang sejalan juga dengan kerumitan komponennya. 

Tasawuf Nietzsche dan Al Ghazali


Seorang Atheis (tidak percaya tuhan) “mengenal” Tuhan dengan cara menolaknya. Di manapun dan kapanpun ia terus berpikir keras bagaimana berusaha menolak keberadaan Tuhan lewat ilmu pengetahuan. Sementara seorang agamis yang percaya Tuhan, adem ayem saja, jarang menyebut-nyebutnya atau bahkan mengejarNya
Jadi kalau dipikir-pikir orang Atheis pada dasarnya lebih banyak “menyebut” Tuhan dalam penolakannya, ketimbang yang agamis dalam penerimaanya.
Seorang agamis yang merasa mengenal Tuhan, dalam kiprahnya kadang berbanding terbalik dengan para atheis yang berusaha menolak Tuhan dengan berbagai upaya. Dia berpikir habis-habisan untuk menolak konsep Tuhan.  Satu-satunya pemikiran yang dikedepankan kebanyakan lewat ilmu pengetahuan. Tidak jarang dengan pengetahuan ini banyak sekali ilmu-ilmu dan teknologi tercipta.
Dalam contoh sehari-hari bisa dijumpai pada sepasang kekasih. Di mana wanita yang membenci anda sebagai pacarnya selalu menghindar dan terus-menerus meneyebut namamu dalam kebenciannya. Sementara wanita yang  mencintai anda biasa-biasa saja tidak pernah cerita dan tidak pernah mengingatmu.  Maka boleh jadi yang membenci itu adalah yang mencintai.

PARADIGMA TEORI KEBUDAYAAN


Paradigma Struktural
Pada mulanya paradigma struktural berasal dari dan tumbuh dalam ilmu bahasa, namun kemudian berkembang ke dalam bidang-bidang ilmu lain, seperti sosiologi, antropologi, dan kritik sastra. Perkembangan tersebut pada dasarnya merupakan perluasan paradigma struktural ilmu bahasa ke dalam bidang-bidang ilmu yang ikut menerapkan paradigma tersebut.
Paradigma struktural menekankan pentingnya objek kajian sebagai sebuah sistem yang terstruktur. Oleh karena itu, dalam ilmu bahasa paradigma ini memfokuskan kajiannya terhadap sistem bahasa (langue), dan bukan pada pemakaian bahasa (parole). Aplikasi paradigmatik strukturalisme dalam ilmu sosial tentu saja memfokuskan kajiannya terhadap sistem sosial, dan bukan pada bagaimana pemakaian aturan-aturan sosial secara individual. Aplikasi paradigma tersebut membentuk aliran sosiologi struktural, yang kemudian juga dipengaruhi oleh fungsionalisme dari antropologi sosial menjadi strukturalisme fungsional.
Begitu pula aplikasinya dalam antropologi, seperti yang dilakukan oleh Levi-Strauss, memfokuskan kajiannya terhadap sistem-sistem budaya, misalnya sistem kuliner, sistem kekerabatan, dan sistem totemisme.
Sebagai contoh, sistem kuliner yang diteliti oleh Levi-Strauss meletakkan klasifikasi makanan dalam sistem oposisi biner, yaitu makanan yang matang/mentah. Sistem kekerabatan yang berkaitan dengan perkawinan diletakkan dalam oposisi biner, yaitu yang boleh/tidak boleh dinikahi. Sistem tabu inses, misalnya, memberikan larangan endogami dan mengharuskan eksogami. Sistem kekerabatan berdasarkan tabu inses tersebut mengangkat manusia dari sistem biologis ke sistem sosial budaya dalam perkawinan. Begitu pula halnya dengan sistem totemisme. Totem diletakkan dalam oposisi biner, dunia atas/dunia bawah. Dunia atas adalah jagat para dewa yang menjadi sesembahan masyarakat pendukungnya; sedangkan dunia bawah adalah alam para binatang, tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat tersebut.

Telaah Pemikiran Freire dengan Tingkat Kesadaran Masyarakat Indonesia


Didalam arkeologi kesadaran manusia, menurut Paulo Freire terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis.
Pertamakesadaran magis. Dalam hal ini merupakan kesadaran paling rendah yang dimiliki oleh manusia. Katanya, orang dengan kesadaran ini melihat kehidupan mereka sebagai sesuatu yang tidak terelakkan, natural dan sulit diubah. Mereka cenderung mengaitkan kehidupannya dengan takdir, mitos dan kekuatan superior yang tidak terbukti secara empiris maupun ilmiah. Sehingga orang dengan kesadaran ini, menganggap kemiskinan dan penindasan sebagai takdir yang tidak terelakkan.
Masyarakat Indonesia pada umumnya berada pada tingkat kesadaran magis ini. yang lebih sering kita jumpai pada mereka yang lemah dan tertindas oleh kekuasaan. Mereka yang tak punya. Mereka terbelenggu oleh permasalahan yang begitu kompleks yang membuat mereka pada akhirnya pasrah dan menerima apa adanya dalam hidup ini.

KAPITALISME

A.    PROLOG
Manusia sebagai makhluk yang berfikir (berakal) dan berillmu pengetahuan, ia selalu mencari dan menciptakan segala sesuatunya untuk memenuhi kebutuhan hidup di muka bumi ini. Dengan akal fikiran dan pengetahuan itulah ia  kemudian mampu menciptakan suatu peradaban. Dan dengan perdaban tersebut, terlahirlah corak tatanan masyarakat dengan karakteristik yang berbeda-beda dalam tiap tahap perkembangan sejarahnya. Secara empiris, peradaban mengalami perubahan dan perkembangan pada suatu Sistem masyarakat dalam konteks sejarahnya.
Pada jaman primitive (prasejarah) dimana manusia masih secara sederhana dalam kelompok-kelompok kecilnya, manusia bekerja secara kolektif (bersama-bersama) hanya untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan komunenya (kelompoknya). Sistem masyarakat pada komune primitive ini lebih mengutamakan Sistem kolektif. yaitu adanya hak milik bersama atas alat-alat produksi, distribusi kerja yang menyeluruh dan pembagian hasil-hasil produksi yang adil dan merata. Jelas pada pada jaman ini tidak ada kepemilikan secara pribadi atas alat-alat produksi dan tidak pula memunculkan klas-klas antagonis (klas yang saling bertentangan) yang akhirnya mengakibatkan eksploitasi (penghisapan) dari manusia atas manusia. Namun seiring perkembangan waktu, alat-alat produksi kemudian mulai dimonopoli oleh beberapa orang saja yang menguasai hajat hidup orang banyak. Konsekuensi logis dari kepemilikan alat-alat produksi secara monopoli tersebut mengakibatkan terbaginya klas-klas (terbaginya kelompok) di masyarakat. Yaitu klas minoritas yang menguasai alat produksi dan klas yang tidak memiliki alat produksi (klas mayoritas). Pada saat itulah akhirnya, masyarakat terbagi menjadi klas-klas yang antagonistik, yaitu klas yang penindas/penghisap (minoritas yang menguasai alat produksi) dan klas tertindas/terhisap (mayoritas yang tak memiliki alat produksi). Dengan demikian, sejarah yang menggerakkan Sistem dalam masyarakat secara dialektis adalah sejarah perjuangan klas, dimana klas satu akan dikalah oleh klas lain untuk melahirkan klas baru, dan seterusnya.

PARADIGMA MAHASISWA TERHADAP REALITAS SOSIAL



 A. Pendahuluan
Ada sebuah ungkapan klasik di dunia ini “Hancurkan kaum muda disuatu Negara maka kamu akan menguasai Negara tersebut”. Sepenggal ungkapan itu mengungkapkan betapa krusialnya posisi kaum muda bagi kelangsungan hidup sebuah Negara.
Ungkapan yang senada juga pernah diungkapkan oleh dr. Tjipto Mangunkusumo. Dia mengatakan bahwa “Masa depan suatu bangsa adalah di tangan generasi mudanya”. Ucapan yang keluar dari pahlawan nasional yang dulunya mahasiswa yang rela berjuang bersama dan demi rakyat ini tentulah tidak berdasar dari khayalan, impian atau muncul pada saat kondisi mabuk. Tetapi hal ini muncul dalam keadaan sadar dan didukung oleh fakta dan bukti sejarah dalam perjalanan pergerakan di negeri ini. Dalam momentum yang menentukan arah bangsa kita selalu melihat “Kaum Muda” (mahasiswa) selalu hadir sebagai pendorong sekaligus sebagai pelaku dalam perubahan tersebut, walaupun kadarnya tidak selalu sama. Setidaknya sekenario resmi pemerintah Indonesia yang masih jadi pakem hingga saat ini., mencatat sebuah lakon yang diaktori mahasiswa, sebutlah pendirian Budi Oetomo yang dianggap sebagai pelopor nasional. Konggres Pemuda II 1928 yang menelorkan sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan 1945, penggulingan soekarno 1966, dan juga penggulingan kekuasaan otoritarian soeharto pada tahun 1998 lalu, semua lakon sejarah tersebut selalu mengambil mahasiswa sebagai aktor utama.

Popular Posts

ads ads ads ads Ads by NasrulL_Pilohn
Belajar Bersama untuk meraih mimpi yang gemilang
Akunasrull.blogspot.com adalah tempat belajar bersama gratis
Akunasrull.blogspot.com

Belajar Bersama Gratis
Akunasrull.blogspot.com adalah tempat belajar bersama gratis
Akunasrull.blogspot.com

Belajar Bersama Gratis
Akunasrull.blogspot.com adalah tempat belajar bersama gratis
Akunasrull.blogspot.com

Belajar Bersama Gratis
Akunasrull.blogspot.com adalah tempat belajar bersama gratis
Akunasrull.blogspot.com

Ads by NasrulL_Pilohn
ads ads ads ads
 
Copyright © 2013. nasrull-samawa || Artikel bisa diperbanyak dan disebarluaskan dengan menyebut sumber "nasrull-samawa"...
Template Creating Website || Diberdayakan Oleh Blogger